amal jariah

May 3, 2013 at 2:04 am Leave a comment

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Khutbah Pertama

Innal hamdalillahi nahmaduhu wa nasta’iinuhu wa nastaghfiruhu wa na’uudzubillaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati a’maalinaa mayyahdihillaahu falaa mudhillalahu wa mayyudhlilfalaa haadiyalahu

Allahumma sholli wa sallam ‘alaa muhammadin wa ‘alaa alihii wa ash haabihi wa man tabi’ahum bi ihsaani ilaa yaumiddiin.

yaa ayyuhalladziina aamanuu ittaqullaaha haqqa tuqaatihi wa laa tamuutunna ilaa wa antum muslimuun

Fastabiqul khairooti ayna maa takuunuu ya’ tinikumullahu jamii’an innallaaha ‘alaa kulli syaiin qodiiru (QS. Al-Baqarah, 2 : 148)

ammaa ba’du..

isi khutbah

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan karunianya kepada kita. Segala puji hanya milik-Nya yang telah menganugerahkan kenikmatan yang tak terhitung bagi kita semua. Dan diantara semua kenikmatan itu, nikmat Islam dan Iman adalah yang paling utama. Dengan nikmat itu, nikmat yang lain menjadi bernilai di hadapan Allah. Atas dasar nikmat itu, nikmat yang lain menjadi berharga di sisi Allah. Hanya dengan adanya nikmat itu, nikmat yang lain bermakna bagi kita, dalam pandangan Allah SWT.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Kehidupan dunia adalah kehidupan yang fana, kehidupan sementara, kehidupan yang sebentar saja. Jika kita dikaruniai usia yang sama dengan Rasulullah, hidup kita di dunia sekitar 63 tahun lamanya. Mungkin ada yang lebih lama dari itu, tetapi banyak juga yang kurang dari itu. Betapa banyak saudara dan teman kita yang meninggal di usia muda; entah didahului oleh sakit maupun kematian yang tiba-tiba. Melalui kecelakaan atau bencana alam, misalnya. Pendek kata, jika waktunya telah tiba, kematian tak bisa ditunda.


فَإِذَاجَاءَأَجَلُهُمْلَايَسْتَأْخِرُونَسَاعَةًوَلَايَسْتَقْدِمُونَ

Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (QS. An Nahl : 61)

Maka hidup yang sangat singkat ini harus diisi dengan memperbanyak bekal. Selagi kematian belum datang maka hidup ini harus dipenuhi dengan amal. Dan diantara amal kebaikan yang dilakukan oleh manusia, ada tiga amal istimewa yang tidak akan terputus pahalanya meskipun sang pelaku telah berada di alam barzakh. Pahala tiga amal itu akan tetap mengalir kepadanya meskipun ia tak lagi hidup di dunia.

Apa saja tiga amal jariyah yang tidak terputus itu? Rasulullah SAW bersabda :


إِذَامَاتَالإِنْسَانُانْقَطَعَعَنْهُعَمَلُهُإِلاَّمِنْثَلاَثَةٍإِلاَّمِنْصَدَقَةٍجَارِيَةٍأَوْعِلْمٍيُنْتَفَعُبِهِأَوْوَلَدٍصَالِحٍيَدْعُولَهُ

Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya. (HR. Muslim dan Ahmad)

Hadits yang sama, dengan matan sedikit berbeda diriwayatkan juga oleh Tirmidzi, Abu Dawud, dan An-Nasa’i)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Amal pertama yang tidak terputus meskipun mukmin itu telah meninggal adalah sedekah jariyah. Yaitu sedekah yang kemanfaatannya terus mengalir. Selama ia bermanfaat, selama itu pula pahalanya mengalir kepada orang yang bersedekah itu, walaupun ia telah meninggal.

Dalam sebuah atsar yang diriwayatkan dari Anas r.a. disebutkan contoh sedekah jariyah ini; yakni membangun masjid, membuat saluran air, membuat sumur, menanam pohon, dan menulis/mencetak mushaf. Selama masjid yang dibangunnya itu ditempati shalat, ia mendapatkan pahala itu. Selama saluran air yang ia buat dimanfaatkan orang lain entah air minum ataupun irigasi, ia mendapatkan pahala itu. Selama sumur yang ia buat dimanfaatkan oleh orang lain, ia pun tetap mendapatkan pahala itu. Selama pohon yang ia tanam, buahnya dimakan orang lain bahkan binatang atau menjadi tempat berteduh dan penyimpan air, ia mendapatkan pahalanya. Selama mushaf yang ia cetak atau ia sedekahkan masih dibaca, ia juga mendapatkan pahalanya. Tentu, lima hal itu adalah contoh dan tidak membatasi sedekah jariyah pada itu saja. Membangun sekolah, lembaga pendidikan, rumah sakit, jalan, jembatan dan seterusnya selama manfaatnya masih terus dirasakan, orang yang bersedekah membangunnya terus mendapatkan pahalanya. Mengalir.

 

Sabda Nabi SAW, ”Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah walau sekecil apa pun, maka Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di surga” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, jika kita menyadari betapa besar manfaat yang kita peroleh dari sebuah amal jariah, maka betapa besar motivasi kita untuk melaksanakannya. Jika kesadaran tersebut diberikan kepada masyarakat di Negara kita, yang mayoritas Muslim, maka kesenjangan ekonomi yang terjadi tidak perlu selebar ini. Betapa banyak orang yang berkelebihan harta di negeri ini. Betapa besar potensi amal jariah yang bisa dilakukan. Tetapi karena kesadaran yang belum ada, maka banyak sekali uang-uang berhamburan tak tentu arah dan tujuan.

 

Kita ambil contoh saja di dunia politik. Berapa uang yang keluar untuk memasang baleho-baleho, mengerahkan masa, membeli suara, dan sebagainya. Apa yang diperoleh oleh calon yang kalah? Tidak ada. Apa yang diperoleh oleh calon yang menang? Jabatan, Ya. Tetapi dia terbebani oleh janji-janji politik yang memaksanya membelokkan penggunaan keuangan yang seharusnya untuk kemakmuran rakyat, menjadi untuk sekedar memenuhi janji-janji politiknya.

 

Seandainya antusiasme orang mengejar jabatan dialihkan kepada antusiasme orang untuk mengejar kebahagiaan akhirat, berapa banyak fakir miskin yang sudah tertolong oleh pengalihan uang dari si kaya kepada si miskin dengan niatan amal jariyah. Niat perlu kita beri perhatian lebih. Karena kadang-kadang orang beramal untuk niat mendapat imbal balik. Jika niat kita semua lurus, kita kelebihan harta lalu kita berfikir soal daerah terpencil yang kesulitan air, kita bantu, masya Allah, betapa banyak keluarga yang merasa teringankan beban hidupnya karena pengorbanan kita. Apakah kita yang hartanya berkurang akan jadi miskin? Tidak. Justru kita akan merasa hidup penuh barokah karena banyak orang yang tiba-tiba menjadi seperti saudara karena bantuan yang kita berikan.

 

Kita ada kelebihan harta, kita bikin jembatan yang menghubungkan dua daerah, Masya Allah. Fungsi jembatan luar biasa. Perekonomian akan makin hidup. Kampung yang tadinya terpencil menjadi terjamah. Dan itu adalah amal jariyah. Amal yang akan terus bertambah pahalanya setelah kita mati.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Amal kedua yang tidak terputus meskipun mukmin itu telah meninggal adalah ilmu yang bermanfaat. Yaitu ilmu yang diajarkan kepada orang lain, lalu orang itu mengalamkan dan mengajarkannya kepada orang lain, dan demikian seterusnya. Maka sepanjang ilmu itu terus bergulir, diajarkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan diamalkan, orang yang mengajarkannya mendapatkan limpahan pahala yang terus mengalir itu.

Orang-orang yang dikaruniai harta lalu mensedekahkannya, termasuk dengan sedekah jariyah, dan orang yang dikaruniai ilmu lalu menjadikannya ilmu manfaat dengan mengalamkan dan mengajarkan, kedua tipe orang itulah yang boleh diiri agar kita juga bisa seperti itu.


لاَحَسَدَإِلاَّفِىاثْنَتَيْنِرَجُلٌآتَاهُاللَّهُمَالاًفَسُلِّطَعَلَىهَلَكَتِهِفِىالْحَقِّ،وَرَجُلٌآتَاهُاللَّهُالْحِكْمَةَ،فَهْوَيَقْضِىبِهَاوَيُعَلِّمُهَا

Tidak boleh hasad (iri) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu, lalu ia menunaikan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Jika kita bicara soal membangun jembatan, membangun saluran air, barangkali yang terbesit dibenak kita adalah, Ya, saya ingin, tetapi apa daya saya tidak punya cukup harta untuk berbuat seperti itu. Sehingga kita merasa putus asa, bahwa sepertinya jalan ini bukan jalan bagi kita untuk memperoleh tambahan amal setelah kita meninggal.

 

Jangan khawatir. Jalan yang kedua ini tidak menuntut kita untuk menjadi orang kaya untuk bisa mengamalkannya. Jalan yang kedua ini lebih bersahabat. Karena disini yang dituntut dari kita adalah kemauan untuk menuntut ilmu, dan kemauan untuk mengajarkannya supaya ilmu tersebut bermanfaat untuk masyarakat.

 

Menuntut ilmu tidak hanya sebatas usia sekolah. Berapapun usia kita, sepanjang kita masih dikaruniai kekuatan fikiran, kita masih bisa menuntut ilmu. Ilmu apa saja. Jangan pernah kita merasa pintar, karena ilmu Allah itu sangat luas. Bahkan diibaratkan jika air laut menjadi tinta, dan pohon-pohon menjadi penanya, itu tetap tidak akan cukup untuk menuliskan ilmu Allah.

 

Masyarakat tidak hanya memerlukan bangunan fisik untuk membantu kesulitan hidupnya. Melainkan juga ilmu. Ketika kita sakit, kita harus disuntik dan minum obat, maka ada ilmu kedokteran yang kita perlukan. Ketika kita mendapatkan masalah hukum, seseorang menggugat kita tanpa bukti yang otentik, kita harus membela diri di depan pengadilan, ada ilmu hukum yang kita perlukan untuk membantu permasalahan yang kita hadapi. Ketika tanaman kebun kita diserang hama, maka ada ilmu pertanian yang diperlukan untuk mengatasi masalah tersebut. Begitu juga ketika Gunung Merapi meletus, maka diperlukan ilmu penanggulangan bencana untuk membuat kita semua selamat dari bencana.

 

Jika kita ada kemauan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang dibutuhkan masyarakat, lalu kita mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain, sepanjang ilmu itu masih digunakan, maka sepanjang itu pula lah amal kita masih terus bertambah meski kita telah meninggal. Termasuk diantaranya adalah menulis buku. Banyak orang yang sudah meninggal tetapi bukunya terus diburu dan dijadikan pedoman hidup. Misalnya saja H. Sulaiman Rasyid yang menulis buku Fiqh Islam atau Buya Hamka yang menulis Tafsir Al Azhar.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Amal ketiga yang tidak terputus meskipun mukmin itu telah meninggal adalah anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya. Anak di sini tidak terbatas anak keturunan pertama, tetapi juga anak dari anak dan seterusnya. Maka di sinilah pentingnya bagi orang tua untuk mendidik putra-putrinya menjadi anak-anak yang shalih sehingga mereka mendoakan orang tuanya tatkala orang tuanya telah meninggal. Demikian pula anak-anak itu nantinya mendidik putra-putrinya untuk menjadi shalih dan shalihah lalu mendoakan orang tua serta kakek dan neneknya.

Karenanya salah satu doa yang sangat penting untuk kita panjatkan adalah seperti doanya Nabi Ibrahim:


رَبِّهَبْلِيمِنَالصَّالِحِينَ

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Ash Shafat : 100)

Doa ibadurrahman yang tercantum dalam QS. Al furqan ayat 74 secara implisit juga mengharapkan anak dan keturunan yang mendoakan orang tuanya.


رَبَّنَاهَبْلَنَامِنْأَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّاتِنَاقُرَّةَأَعْيُنٍوَاجْعَلْنَالِلْمُتَّقِينَإِمَامًا

Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqan : 74)

 

Sekarang kita hidup di era teknologi canggih dimana kemajuan dalam hal komunikasi telah berkembang sampai batas yang kita khawatirkan. Mendidik anak menjadi jauh lebih sulit karena dia akan terpengaruh pula oleh lingkungan sekitar. Anak-anak SMP sudah naik motor, pegang HP, menggunakan internet, bahkan sesekali waktu kita saksikan mereka juga kedapatan merokok. Bahkan yang begitu mengerikan adalah pemerkosaan disertai pembunuhan dan pembakaran belum lama ini. Siapapun orangnya yang masih punya hati, pasti akan menangis menyaksikan dunia yang semakin tidak beradab. Ini adalah sebuah sinyal bagi kita semua untuk lebih memberi perhatian serius pada dunia remaja. Karena mereka pulalah yang akan memberikan pengaruh karakter pada generasi kita.

 

Jika menata masyarakat masih terasa berat, marilah kita mulai dari kita sendiri. Jika di keluarga kita ada anak usia remaja, mari kita jaga bersama akhlaknya. Kita beri contoh yang baik dalam berperilaku di masyarakat. Sesekali waktu kita tanamkan pengertian kepada mereka soal pentingnya berbuat jujur, saling menolong, rajin belajar, beribadah sepanjang waktu. Tentu saja tanpa kita melupakan untuk mendoakan mereka agar menjadi anak sholeh dan mendoakan kedua orang tuanya setelah meninggal kelak. Jika masing-masing dari kita ada kesadaran untuk melakukan hal itu, Insya Allah kerusakan moral remaja berangsur-angsur bisa dipulihkan.

 

 

barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim wa nafa’nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.

Khutbah Kedua

Innal hamdalillahi robbal’aalamiin wa asyhadu an laa ilaaha illahllaahu wa liyyash shalihiina wa asyhadu anna muhammadan khaatamul anbiyaai wal mursaliina allahumma shalli ‘alaa muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.
Ammaa ba’ad..

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Kesimpulannya adalah, mari kita berusaha untuk memperbanyak sedekah jariyah dengan niat yang ikhlas karena Allah, yakni sedekah yang kemanfaatannya berjangka panjang bahkan “permanen” tentu saja tanpa mengesampingkan sedekah lainnya; kita berusaha untuk terus dan terus mencari ilmu (thalabul ilmi) disertai dengan mengamalkan dan mendakwahkan/mengajarkan ilmu tersebut; kita juga terus berusaha mendidik putra-putri kita serta mendoakan mereka agar menjadi anak yang shalih dan shalihah yang nanti secara sadar akan mendoakan kita. Sebab sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya itulah tiga investasi utama, yang pahalanya terus mengalir meskipun kita meninggal dunia.

Allahummagh fir lilmuslimiina wal muslimaati, wal mu’miniina wal mu’minaatil ahyaa’I minhum wal amwaati, innaka samii’un qoriibun muhiibud da’waati.
Robbanaa laa tuaakhidznaa in nasiinaa aw akhtho’naa. Robbanaa walaa tahmil ‘alaynaa ishron kamaa halamtahuu ‘alalladziina min qoblinaa.Robbana walaa tuhammilnaa maa laa thooqotalanaa bihi, wa’fua ‘annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maw laanaa fanshurnaa ‘alal qowmil kaafiriina.
Robbana ‘aatinaa fiddunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar. Walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Khutbah Jum’at Kurikulum Bahasa Inggris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


May 2013
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Pages


%d bloggers like this: