Golongan Putih

February 27, 2009 at 2:21 am 1 comment

Kalau kita sebagai orang beriman ditanya ingin surga atau neraka, pasti jawaban kita adalah surga. Kenapa? Karena neraka itu isinya api, panas, ga nyaman yang kalau dalam pewayangan ‘mungkin’ dilukiskan dengan gunungan, dimana di satu sisi memperlihatkan taman yang asri, di sisi sebaliknya menampakkan api yang menjilat-jilat. Pokoknya semua orang ingin masuk surga.

Jika sudah begitu, maka pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita sudah menjalankan perintah serta menjauhi larangan agama dalam rangka menuju cita-cita kita masuk surga. Nah.. kalo sudah sampai yang ini, barulah jawaban kita beragam. Ada yang bilang sudah, ada juga yang belum. Ada yang sudah tapi belum sempurna, tapi ada juga yang belum tapi punya keinginan untuk melakukannya. So, anyway that’s the fact.

Lalu bagaimana jika kita dihadapkan pada sesuatu yang menggoda kita untuk berbuat dosa? Mencuri mangga misalnya. Disinilah iman kita diuji. Kalau kita menggunakan kesempatan itu, maka jalan kita ke surga agak terhambat. Namun jika kita bisa melewati ujian itu, maka jalan kita akan semulus jalan tol. Artinya meskipun kesempatan mencuri mangga itu ada, namun tidak kita gunakan, maka kita bisa dikatakan lolos uji atas keimanan kita.

Namun temanku yang satu ini benar-benar membuatku menelan ludah. Nggak tahu aku jawaban apa yang benar atas kesulitan yang dihadapinya. Intinya sih dia ingin menghindari perbuatan dosa. Jadi, sebuah cita-cita yang mulia, pikirku. Namun ketika aku tahu dosa apa yang akan dihindarinya, aku hanya bisa diam, karena memang tak bisa memberi jawaban yang terbaik.

“Jadi kamu beneran mau menggadaikan HPmu Wan?”

“Ya iya lah, kecuali kamu mau memberi aku pinjaman uang buat aku pulang kampung”

“Lha, kamu kan barusan balik kesini, ngapain tiap bulan pulang kampung? Mau dikawinin sama ibu kamu yang di Sumatera sana?”

“Bukan begitu bro, tapi aku harus mengikuti pemilu, jadi aku harus pulang kampung. Nah masalahnya ongkos buat kesana ga ada”

“Ya ela, pemilu kan bisa di Jogja aja, ga perlu pulkam?”

“Sekarang ga bisa bro. Kalo ikut pemilu di Jogja aku hanya bisa milih wakil rakyat buat DPR RI. Itu pun syaratnya njelimet. Jadi aku harus pulang kampung”

“Kamu itu Wan… Wan, lha wong kamu cuma nyumbang satu suara koq dibela-belain cari utangan. Satu suara ga ngaruh Wan…. Belum lagi kalo caleg yang kamu pilih ternyata ga jadi. Jadi ngapain pulang, mending duitnya kamu pake buat nraktir aku di angkringan. Kan lebih berbarokah?”

“Dasar kamu monyong, bukankah sudah difatwakan oleh MUI kalau kita jadi golput itu haram. Haram itu dosa. Dosa itu kalo kebanyakan bisa masuk neraka. Kamu mau masuh neraka?”

walah-walah… untung aku tinggal di Jogja, KTPku juga Jogja. Sehingga aku nggak harus cari utangan untuk bisa menghindarkan diri dari dosa.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Pembubaran Panitia Ngacir…

1 Comment Add your own

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


February 2009
M T W T F S S
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Pages


%d bloggers like this: