Karya Seni

February 19, 2009 at 7:56 am Leave a comment

Salah satu kelebihan yang ditawarkan oleh profesi wiraswasta adalah adanya kelebihan waktu untuk dimanfaatkan apa saja. Aku mencoba memilih untuk membuat sebuah karya seni, karena aku berfikir bahwa menjadi seniman itu cenderung akan membuat kita memiliki banyak teman. Bandingkan dengan menjadi politisi.

Kenapa ga jadi pengusaha saja? Sepertinya kalau hanya menjadi pengusaha itu rasanya akan garing. Toh, kita cari uang itu kan sebagai sarana bukan sebagai tujuan akhir. Kalau uang sudah ada, maka kita harus segera berfikir mau diapakan ini uang. Lagipula yang namanya uang itu susah ngukurnya. Belum tentu yang jumlahnya banyak itu lebih banyak pula manfaatnya. Karena kadang2 yang namanya kebutuhan untuk lobi, uang milyaran tidak menghasilkan apa2 (misalnya kasus pulau sipadan dan ligitan) sedangkan modal dengkul kadang malah menghasilkan deal bisnis yang luar biasa. Jadi aku rasa daripada waktu kita habis untuk menghitung2 uang yang kita kumpulkan, mendingan kita nikmati saja uang yang ada ini. Tentu saja di jalan yang baik dan benar.

Lalu kalau membuat karya seni, karya seni apa? Wong kamu kuliahnya di akuntansi koq mau jadi seniman. Ya jadi usahawan yang lebih cocok“ Begitu kata Kang Rebo saat ngobrol di gardu ronda. Tapi hatiku menyanggah.. ga…ga. Ga bisa pendidikan dijadikan ukuran. Bung Karno itu insinyur, tapi pandai melukis, pandai menyusun kata2 indah, pandai membuat istilah-istilah, pandai merayu wanita… Jadi seni adalah urusan hati. Pendidikan ya pendidikan. Toh bisa jadi kan selama kuliah di akuntansi aku juga mendalami seni?

Lalu seni apa yang sudah kamu hasilkan? Paling juga air seni?“ Mbah Rebo lagi2 mencoba menyiutkan nyaliku.

Jangan salah Kang. Seni itu cakupannya luas. Orang corat-coret tembok dengan bentuk huruf yang beraneka ragam itu bisa juga disebut seni lho.”

O… kamu dulu suka corat-coret tembok to? Sontoloyo”

Bukan begitu Kang, aku Cuma kasih conto. Kalo mobil yang warna2 tertentu harga sekenanya lebih mahal itu juga ada hubungannya dengan seni lho kang. Dan itu ga perlu piala untuk menunjukkan bahwa seseorang memiliki sentuhan seni”.

Ya sudah… sekarang kamu maunya membuat karya seni seperti apa?”

Saya mau nulis novel kang“

ha..hahaha…..haha…… waduh2.. perutku sakit tiba2… haha…ha..“

Kang Rebo dengan terbatuk2 meninggalkan gardu ronda. Sesekali ia menoleh memandangku penuh remeh. Sial. Dasar tukang ngisruh. Bisanya Cuma cekikikan.

Begitulah yang namanya sebuah tekat, pasti ada aral melintang. We lhadalah, lha koq malah ada Surti di perempatan. Ngapain itu? Wah3… ini nie, saatnya aku menunjukkan sentuhan seniku. Biar Kang Rebo bungkam.

Lagi ngapain Sur?“

Oh… lagi cari angin saja’

Cari angin kok malam2… di perempatan lagi, mbokya di warung kopi saja. Ayo aku anterin“

He2… maunya sih, tapi….“

Tapi apa?“ Aku mulai mendekatinya hingga hampir tak berjarak.

Brak…!!!“ tiba2 sebuah bogem mentah meluncur dari belakang. Aku pun tersungkur.

Kamu jangan coba-coba mengganggu pacarku ya“, seorang pria jelek tiba2 marah di hadapanku sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arahku sebelum berlalu sambil merangkul surti. Jangkrik..

Sambil tergopoh2 aku mencoba berdiri. Begitu mau beranjak pulang, tiba2 seseorang berdiri di hadapanku sambil menyalakan rokok. Hah? Kang Rebo?

Haha…haha…“

Sontoloyo……!!!

Entry filed under: strugle of life. Tags: .

Pagi yang Baru Pembubaran Panitia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


February 2009
M T W T F S S
    Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Pages


%d bloggers like this: